” sudahla..”

January 20th, 2008 by fai-hmz

“Sudahlah…..”

Awan pekat menyelimuti langit , burung-burung pun berlarian kesana kemari mencari perlindungan, angin bertup sangat kencang menerpa apa-apa yang dilewatinya, tiada yang dapat menebak apa yang akan terjadi, suasana begitu sunyi senyap laksana kuburan, tiada lagi gelak tawa yang terdengar dari mulut-mulut sang pembuat onar, tiada lagi teriakan sang pemburu berita, tiada isak tangis sang terluka, semua seakan menghilang entah kemana, aku duduk sendiri ditepi sebuah bangunan yang tak berpenghuni aku merenung memikirkan nasibku yang semakin tidak jelas arah, apakan ini adalah kehidupanku? Aku tak mau hidup seperti ini tiada cinta,kasih sayang yang berpihak kepadaku,

Para malaikat kecil tertawa geli melihatku termangu sendiri diantara puing-puing keindahan akna cinta dan kasih, sang peri menari-nari diatas kepalaku seolah memberiku suatu harapan akan cinta dan kasih, aku ingin apa yang mereka rasakan selama ini yakni cinta, kasih dan sayang sepenuhnya dari orang lain. Aku tak pernah merasakannya lagi setelah ayahku pergi bertandang kerumah_nya, tiada lagi canda, tawa terluap dari batinku, tiada lagi senyum bahagia yang tercipta untukku, tiada lagi kasih sempurna yang dipersembahkan untukku,aku menangis diantara jerit tawa mereka, tiada seorangpun yang tau akan isi hatiku, mereka hanya tau bahwa aku adalah manusia tampa duka, mereka hanya mengingintatkala mereka dalam ujung jurang kehidupan, mereka hanya ingat aku tatkala mereka membutuhkanku, mereka hanya peduli padaku tatkala mereka punya mau, alalu kemana mereka tatkala ku membutuhkan, kemana mereka tatkala aku berduka, kemana mereka tatkala aku terjatuh tiada seorangpun yang daoaet menolongku dari sebuah jurang kehidupaaku memang tak mau mereka tau apa-aa yang  sebenarnya terjadi padaku karena ku begitu takut kehilangan mereka, mereka adalah bagian dari kehidupanku, mereka adalah bagian dari nyawaku, amereka adalah bagian dari masaku, adilkah aku yang telah memereka tatkala aku harus bebputus asa sedangkan aku tidak pernah memberitahukan kepada mereka?

Kini aku terpuruk tak berdaya aku ingin sebuah cinta kasih yang dapat meberiku warna dari hidupku, aku sangat membutuhkan belaian kasih sejati untuk menidurkanku dari sebuah jeritan keganasan alam, aku butuh seseorang yang dapat mengerti sepenuhnya akuan diriku, yan menerima aku dengan segala kekuranganku. Mungkin aku sangat bahkan terlalu takut mereka tau segalanya akan diriku, aku takut setelah mereka tahu siapa sebenarnya aku mereka akna meninggalkanku, lalau bagaimana dengan perasaanku yang bergejolak meminta sebuah arti dari cinta kasih sempurna adakah seseorang yang dapat memberiku segalanya?

Aku berlindung dibalik topeng sebuah persahabatan khianatkah aku? Akupun tak tajk tahu harus bagaimana ketika cinta menyapaku aku hanya berlalu

tampa

mengindahkannya, bukannya aku tak mau namun aku takut untuk kehilangan segalanya.

Dear my…

Aku harus bagaimana hat\ruskah aku berterus terang kepada siapapun yang aku cintai? Haruskan aku menampakkan aku yang sebenarnya, memeng aku adalah manusia yang hina, manusia yang tak tahu diri dilain sisi eku menganggap aku adalah hebat yang tak butuh akan cinta namun disisi lain aku sangat merindukan dan membutuhkannya. Banyak yang berusaha mendekatiku namun aku hanya cuek saja, bukannya aku tidak mau namun aku belum siap untuk  menrima semuanya, aku takut perpisahan aku takut akan kekhianatan aku takut ….

Kini aku sendiri tiada kawan ataupun orang yang dapat menghiburku karena mereka tak tahu, memeng semua adalah salahku.

Dear my…

Apa yang harus aku lakukan ? Haruskah aku merubah semuanya? Semua yang sudah aku rangkai sedemikian rupa hingga menjadi bentuk yang  sempurna meski mereka meninggalkanku disaat aku terpuruk dan membutuhkan mereka? Haruskah aku mengakhiri ini semua dan memulainya dengan lembar yang baru demi menuju cita-cita cinta yang hakiki? Ya ya aku harus berubah . Namun aku harus mulai dari mana tiada yang dapat membantuku untuk menemukan jati diriku mereka sudah menganggapku sempurna.aku tak tahu.

Ah sudahlah ……………

a-q (

11/01/08

)

Mimpi

January 20th, 2008 by fai-hmz

“ Mimpi..”

Senandu rindu melantun lewat alunan irama seruling bambu sang pengembala, bias sinar sang dewi malam terhalang oleh iringan awan berarak, gemerlap bintang tiada lagi menyeruak, hembusan angina malam membelai kulit hingga menusuk tulang, kesunyian yang terdalam menyelimuti kalbu hati yang teriris sepi yang terbaring diantara onggokan bangkai yang tertimbun dari beberapa kepastian yang tak jelas dari mana datangnya .

Aku terbaring tak bergerak menanti sebuah makna dari arti kehidupan hakiki, disela sela lautan anggur merah yang dituangkan sang iblis aku terus berjalan untuk menemuinya, perih terasa   tertusuk duri tajam sang trisula kehidupan yakni cinta, persahabatan dan kesetiaaan , apakah aku harus meneruuskan perjalanan ku yang aku juga tak tau arah tujuannya,haruskah aku melawan getirnya kehidupan yang menganga seolah siap menelanku .

Semuanya seakan sirna tatkala sang ego memaikan iramanya dengan tembang temabang kebencian yang diaransement sedimikian rupa sehingga membuat orang-orang lunglai tatkala mendengarkannya , apakah ini sebuah realita ataukah imajinasi yang dibawa sang penjaga malam untuk dapat menggapai pengikutnya,? Atuakah/???/ ku juga tak tahu yang kurasakan kini hanyalah sebuah ketidak pastian diantara jurang pemisah kehidupan .

Akankah semuanya ini berakhir dengan kemenanganku ataukah ini harus berakhir dengan kemenangan sang ego? Aku tak mau semuanya menjadi sebua fobia dalam kehidupanku, ku mwncoba menemukan jalanku disela-sela puing kehidupan masa laluku, aku mencoba mengayak-ayak samapah kehidupan yang tertumpuk disudut kelam hatiku, semuanya demi mendapatkan arti dan makana dari kehidupanku saat ini, tatkala aku mencoba menyingkap serambi sang pemilik hati ia pun marah dan mengejarku bagai anjing yang mencuri tulangnya, aku terus dan terus berlari menghindari kejarannya hingga sampai pada sebuah tempat yang sunyi, senyap tak berpenghuni, disana aku merasa semuanya indah dan nyaman dengan hiasan-hiasan bunga mawar yang tertanam disetiap sudut ruangan, aku mencoba mendekatinya untuk mencari tahu tempat apakah ini yang begitu inda, bersih, namun kemanakah semuanya kenapa semuanya menjadi sunyi, sepi? Aku melangkahkan kakiku menuju balai yang dimana setiap tiangnya terbuat dari emas dan dihiasi dengan intan berlian, begitu indah begitu memukau dan begitu sedap dipandang mata, disela penasaranku akan tempat itu aku mencium semerbak harum bunga mawar dan melihat sebuah tempat peristirahatan yang begitu megah dan indah, aku mencoba mendekatinya dan duduk disana,

Disela aku merenungkan sebuah penghrapan yang tak kunjung datang ku tersentak tatkala sesosok bayangan  melintas dihadapan ku perlahan namun pasti ia dating padaku, aku mencoba memainkan selendangnya yang putih dan wangi agar dapat menarikku dan mengajakku terbang bersamanya , ia sungguh cantaik , ia sungguh menarik ia sungguh menawan hati,  namun akankah aku tersadar dan terbangun dai mimpiku tatkala semuanya terasa indah bersamanya,? Aku tak ngin semuanya ini berakhir begitu saja.

Semuanya terasa gelap dan tak bersinar tatkala ia menghilang begitu saja, aku mencoba menmukannya namun sia-sia, aku terperanjat tatkala bias sinar sang surya menerpa wajahku ia membangunkanku dari mimpi-mimpiku, aku terperanjat ketika sesosok banyangan hadir didepankiu ia mencoba meraih tangan ku untuk membantuku berdiri “ ayo bangun waktunya sholat ,…?//// ntar keburu siang lho ?/" katanya,aku masih termangu menatap sorot matanya yang sayu, apakah semua ini mimpi? “ Ayo cepat ….” Teriaknya lagi, akupun beranjak dari tidurku yang terasa begitu singkat dan segera ambil air wudlu dan sholat . “ Ya tuhan ini hanyalah sebuah mimpi yang tiada berujung yang aku juga tak tahu makna dan artinya…// inikah keagunganmu sehingga engkau menuntunku lewat mimpi-mimpiku, terima kasih tuhan engkau telah menyadarkanku dari mimpi-mimpiku yang kelam.”

                                                                               

                                                                                                                          

maafkan aku

January 19th, 2008 by fai-hmz

saudaraku
maafkan aku yang pernah encintaimu meski kau tak tau
maafkan aku yang pernah memujamu meski kaupun tak tahu
maafkan aku yang bersembunyi dibalik topeng sang pelindung
maafkan aku yang pernah membohongimu tenteng perasaanku padamu
bukannya aku takut kehilangan cintamu ataupun kasihmu
namun yang kutakutkan adalah saat kehilanganmu dari hidupku
haruskah kukabarkan kecintaan laut pada biru?
haruskah kukabarkan kesetiaan embun pada pagi?
haruskah kukabarkan ketulusan kasih ibu kepada anaknya?
haruskah kukabarkan keikhlasan bintang menemani malam?
saudaraku
cinta tak harus memiliki
cinta datang dari hati yang tulus
ketulusan berasal dari keihlasan untuk menerima
karena cinta adalah keikhlasan untuk menerima
tiada yang sempurna didunia ini
kesempurnaan hanyalah milik-Nya
saudaraku
kita berada pada masa yang sulit
kita berada pada kehidupan yang rumit
kita berada pada dunia yang pelik
kita berada entah dimana?
saudaraku
aku tak bisa selamanya berada disisimu
aku tak bisa selamanya berada didkatmu
aku tak bisa selamanya bisa membantumu
aku tak bisa selamnya menjadi bagian dari hidupmu
aku adalah adalah aku
bukan kau
bukan dia
bukan mereka
terserah mereka menilaiku seperti apa
terserah mereka menjulukiku seperti apa
terserah mereka berkata seperti apa
terserah mereka malakukanku seperti apa
aku tidak peduli
inilah aku yang terjebak diantara reruntuhan puing-puing masa lalu
inilah aku yang tak berdaya tatkala sang peri menamcapkan panah cinta didadaku
inilah aku yang terbuang dari kehidupan cinta dan kasih sayang
inilah aku yang terpuruk dari kehidupan yang keras tanpa batas.

January 1st, 2008 by fai-hmz

Jalan Kembali ke Ilahi Laporan: alam sebuah hadis yang dikenal dengan ‘Hadis Jibril’, Nabi Muhammad mengajarkan tiga dimensi pokok Islam yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Kisahnya ketika itu Nabi saw dan para sahabatnya sedang duduk-duduk bersama dalam sebuah majelis, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Nabi saw. Setelah laki-laki itu pergi, Nabi saw memberitahu sahabatnya bahwa dia adalah Malaikat Jibril yang datang untuk mengajarkan agama (dien) kepada mereka. Dalam sebuah hadis yang dikenal dengan ‘Hadis Jibril’, Nabi Muhammad mengajarkan tiga dimensi pokok Islam yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Kisahnya ketika itu Nabi saw dan para sahabatnya sedang duduk-duduk bersama dalam sebuah majelis, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Nabi saw. Setelah laki-laki itu pergi, Nabi saw memberitahu sahabatnya bahwa dia adalah Malaikat Jibril yang datang untuk mengajarkan agama (dien) kepada mereka. Sebagaimana terangkum dalam pertanyaan-pertanyaan Jibril dan jawaban-jawaban Nabi, agama Islam memiliki tiga dimensi dasar yakni Islam, Iman dan Ihsan.Ajaran Islam, pada tataran eksternal adalah agama yang memberitahukan kepada umat manusia apa yang wajib dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan. Perbuatan-perbuatan baik dan buruk dijelaskan dan dikodifikasi oleh syariat. Dalam hal ini syariat dapat diumpamakan sebagai ‘tubuh’ Islam, karena ia menjelaskan berbagai amal perbuatan yang dilakukan anggota tubuh, dan karena ia memperkuat kehidupan dan kesadaran tradisi. Perintah-perintah seperti shalat, puasa, zakat dan haji merupakan contoh dari tataran ini.Pada tataran lebih dalam, Islam merupakan agama yang mengajarkan kepada umat manusia bagaimana memahami dunia dan diri mereka sendiri. Dimensi kedua ini berhubungan dengan pikiran. Secara tradisional disebut ‘keimanan’, karena setiap bagian orientasinya adalah obyek-obyek yang berkaitan dengan keimanan –kepada Allah, para malaikat, Nabi dan sebagainya. Pada tataran ini dibutuhkan kajian dan perenungan atas keyakinan-keyakinan Islam Selanjutnya pada tataran yang paling dalam, Islam adalah agama yang mengajarkan umat manusia bagaimana mentransformasikan diri mereka sendiri agar mereka dapat menciptakan keselarasan dengan sumber segala wujud. Aktivitas dan pemahaman harus difokuskan sedemikian rupa sehingga dapat melahirkan kebajikan dan kesempurnaan manusia. Kebajikan ini inheren dan bersifat intrinsik bagi fitrah manusia, yang diciptakan dalam citra Ilahi. Hal inilah yang merupakan dimensi ihsan dalam Islam. Dalam tradisi para Sufi, dimensi ihsan ini memainkan peran yang sangat penting di samping Islam dan Iman. Dalam hadis itu, Nabi saw mendefiniskan ihsan dengan ‘beribadalah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Akan tetapi, apabila engkau tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu.’ Ihsan inilah yang merupakan jantung dari agama yang meliputi kebaikan, cinta, kebajikan dan kesempurnaan. Namun demikian tidaklah mudah bagi manusia untuk menjalankan ketiga dimensi tesebut, khususnya pada dimensi ketiga, ihsan. Karena di dalam diri manusia selalu terjadi peperangan antara Jiwa Kebajikan dengan Hawa Nafsu dan Syahwat. Jiwa Kebajikan cenderung untuk mengabdi kepada Allah, sedangkan hawa nafsu dan syahwat cenderung untuk kepada kehidupan duniawi material saja dan lalai kepada Allah. Memang untuk mempunyai kesadaran ruhani seperti itu bukan hal mudah. Sebuah proses perbaikan harus dilakukan untuk kita meningkatkan jiwa kita mencapai Jiwa Kebajikan. Untuk itu menyadari hakikat diri kita merupakan hal penting dalam membangun kesadaran beragama itu. Jika kita mau mengurai \’dari mana mulai beragama\’, ini dapat kita mulai dengan menyadari dalam diri kita (manusia) ada aspek \’lahir\’ dan ada aspek \’bathin\’. Aspek lahir adalah tubuh ini, yang apabila ajal telah menjemput akan dikuburkan dalam tanah. Dan akan kembali menjadi tanah. Aspek bathin adalah sang ‘jiwa’, yang pernah bersaksi kepada Allah sebelum kita terlahir (QS 7:172) dan yang kelak akan disiksa di alam kubur apabila menemui ajal dalam keadaan berdosa. Dan yang tetap akan hidup damai bersama jiwa-jiwa para Nabi, Shidiqin, Syuhada dan Shalihin apabila menghampiri ajal dalam keadaan suci bersih. “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):\"Bukankah Aku ini Rabbmu\". Mereka menjawab:\"Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi\". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: \"Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)\". (QS. 7:172) Jiwa dalam bahasa Arab disebutkan sebagai \’an-Nafs\’ bukan \’ar-Ruh\’. Karena antara jiwa dan ruh sesungguhnya ada perbedaan. Ruh manusia berbeda dengan ruh hewan. Apabila Ruh hewan hanyalah berfungsi sebagai nyawa untuk menghidupkan jasad, ruh manusia berfungsi pula sebagai sumber pengetahuan Ilahiah (Ruh Amr). Ruh manusia merupakan sebahagian Ruh Allah yang ditiupkan ke dalam diri manusia. Karena itu apabila manusia benar-benar dapat merefleksikannya, manusia akan menjadi citra Allah di muka bumi yang ini dalam termilogi Islam sering disebut sebagai Insaan Kamil. Dan jika ini terjadi dalam diri seorang manusia, maka ia disebut sebagai khalifah (wakil atau citra) dari Allah. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. 32:9) Keberadaan jiwa manusia itu sendiri berada pada dua pengaruh, yaitu pengaruh Ruh Amr dan pengaruh Jasad. Jiwa yang dipengaruhi Ruh Amr inilah yang merupakan Jiwa Kebajikan. Sedangkan akibat dari pengaruh jasad ini kemudian muncul entitas-entitas hawa nafsu dan syahwat. Hawa nafsu dan syahwat ini adalah kendaraan bagi manusia untuk hidup di dunia, namun sekaligus sebagai batu ujian dari Allah. Seorang manusia tiada akan mungkin dapat hidup di dunia tanpa hawa nafsu dan syahwatnya. Namun manusia yang merelakan diri, segala aktifitasnya didasari oleh hawa nafsu dan syahwat akan semakin menyebabkan jiwanya turun derajatnya, bahkan lebih rendah dari hewan. “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilahnya.Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu).” (QS. 25:43-44) “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (QS. 45:23) Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(QS. 7:179) Namun manusia yang mengendalikan dirinya dari hawa nafsu dan syahwatnya, maka sang jiwa akan mengalami proses pensucian atau penyempurnaan. dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan, (QS. 91:7-8) Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. 79:40-41) Sedangkan orang-orang yang tiada memperdulikan aspek bathiniahnya, hanya fokus kepada aspek lahiriahnya, akan merelakan seluruh aktifitasnya untuk diatur oleh hawa nafsu dan syahwatnya. Akibatnya tanpa disadarinya, Jiwa Kebajikannya terbelenggu, diperbudak dan dipenjara oleh hawa nafsu dan syahwatnya. Manakala Jiwa Kebajikan terbelenggu oleh hawa nafsu dan syahwatnya, maka ia akan lupa terhadap apa yang pernah diperjanjikannya kepada Allah sebelum lahir ke muka bumi. Dan apabila ini terus terbawa sampai menghadapi ajal, maka Jiwa Kebajikan akan menanggung penderitaan, karena tidak memenuhi janjinya. Usaha diri kita untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu dan syahwat, inilah merupakan \’gerbang\’ dari seluruh proses keagamaan kita. Apabila seseorang mengendalikan diri dari hawa nafsu dan syahwatnya,maka sedikit demi sedikit Jiwa Kebajikan akan terlepas dari belenggu hawa nafsu dan syahwat. Dan sedikit demi sedikit ia akan mengingat \’perjanjiannya\’ dengan Sang Rabb sebelum ia dilahirkan ke muka bumi. Jika kita ibaratkan hawa nafsu dan syahwat itu bagaikan hewan ternak, yang jika tidak dikendalikan akan semakin liar dan sulit diatur. Lihatlah diri kita, apabila kita melakukan sebuah kemaksiatan kemudian mengulanginya lagi, maka akhirnya semakin sulit bagi kita untuk mengendalikannya. Dan akhirnya sulit bagi kita untuk keluar darinya. Seperti sebuah cermin yang bening, jika lama-kelamaan tidak dibersihkan maka akan semakin buram dan tidak akan dapat berfungsi menjadi cermin, karena tidak ada bayangan yang dapat dipantulkan di sana. Kita harus menyadari bahwa keberadaan hawa nafsu dan syahwat yang ada dalam diri manusia itu, adalah media bagi setan untuk menggoda manusia. Tanpa godaan dari setan sekalipun hawa nafsu dan syahwat telah mencenderungkan manusia kepada keburukan. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 12:53). Namun bukan berarti kita harus menghilangkannya sama sekali, hanya saja hawa nafsu itu harus dikendalikan agar kita tidak terjerumus ke dalam kenistaan. Apabila seseorang berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya dengan sungguh-sungguh (mujahadah), maka apabila Allah ridha terhadap upayanya, maka Allah akan menolongnya. Satu demi satu hawa nafsu dan syahwat yang liar, akan menjadi \’jinak\’ dan terkendali. Inilah yang disebut di ayat di atas sebagai \’nafsu yang telah diberi rahmat\’. Maka Jiwa Kebajikan akan semakin dapat mengendalikan hawa nafsu dan syahwat-nya ini, menjadi semakin sempurna, menjadi muthmainnah (nafs al muthmainnah). Dan apabila hawa nafsu dan syahwat telah \’jinak dan terkendali\’, maka ini akan menjadi kendaraan bagi manusia untuk kembali kepada Allah. “Hai nafs al-muthmainnah. Kembalilah kepada Rabbmu dengan ridha lagi diridhai-Nya.” (QS. 89:27-28) [] (Rudhy Suharto)

4 My Best Father

October 5th, 2007 by fai-hmz

Untukmu (ayahku)

Engkau begitu menawan,

Begitu sabar, tiada kegelisahan terpancar dari pesonamu,

Begitu baik, tiada seucap kata bentakan yang terlontar

Begitu indah, tiada sedikitpun nasihat yang ta’ bermakna

Engkau sungguh tampan.

Engkau sungguh gagah

Engkau sungguh kuat

Engkau sungguh ……..

Engkau adlah sumber inspiraiku,

Engkau adlah jiwaku

Engkau adalah segalanya bagiku

Mengapa terlalu cepat engkau pergi, meninggalkan begitu banyak kenangan

Begitu banyak

Canda

Tawa

Senda

Gurau

Bahkan senyuman simpul khasmu yang mengiringi setiap kepergianku menuntun ilmu

Engkau begitu mengagungkan tuhan

Engkau begitu menginginkan aku tu’ jadi yang terbaik

Engkau sungguh gigih tu’ dapat membuatku bahagia,

Meskipun kau korbankan segalanya bagiku

Sungguh tiada kata yang terucapkan ,

Tatkala engkau menutup mata tanpa didampingi putra2 mu

Durhakakah aku yang telah meninggalmu dalam keadaan terkulia lemah

Pantaskah aku tu’ jadi anakmu, sedangkan disini ku hanya dapat tertawa menikmaati hasil keringatmu.?

Wahai engkau yang telah tertidur pulas disana,///

Maafkan anakmu yang tiada disisimu disaat kepergianmu,

Maafkan anakmu yang tiada yang hanyadapat melihatmu pergi,

Maafkan anakmu yang tak dapat membantumu meringankan bebanmu,

Hanya doa yang dapat kuberikan padamu….

Hanya amalan-amalan sholeh yang dapat kukirimkan padamu…

Aku akan selalu ingat akan semua nasihatmu…

Aku akan selalu ingat pesanmu…///

Aku berjanji akan slalu menjaga surgaku….

Satu kata terakhir untukmu maafkan aku…..////////!!!!!!!

Untukmu nan jau disana…

September 26th, 2007 by fai-hmz

Kesunyian merayap penat meramba setiap langkahku//

Dalam kegelapan ku coba tuk dapat menemukan dirimu//

Hilang, tiada bebekas//

Musnah Tiada bernyawa//

kemanakah lagi kucari ?

setiap jengal langkah kakimu tlah kutelusuri//

Namun hanya bayang-bayang semu yang kudapat//

lalu………………////

Haruskah aku berlari menerjang badai,

Haruskah aku berenang melawan ganasnya ombak,

Haruskah aku berdiri tak bergerak,

Ataukah harus aku membelah hutan,

Patutkah aku menanyakanmu…

yang tlah hilang musnah ditelan abu zaman abadi//

Kini yang kurasakan hanya kehampaa,

Tiadalagi canda tawa yang mengiringi langkah kakiku melawan ganasnya ilasan roda zaman//

Tiada lagi isak tangis yang memecahkan sunyinya kegalauan hati,

Tiada lagi caci maki yang terlontar dari kebusukan bibir yang memerah,

Tiada lagi senyum simpul yang kau berikan padaku,

Semuanya telah berlalu dan akan terus menjadi sebuah kenangan yang terindah semasa hidupku.

Slamat jalan sahabatQ,

Slamat jalan My best parter,

Smoga kau disana mendapatkan kenyamanan dan pelayanan surga…Nya

Slamat berpisah belahan jiwaku

kelak kita pasti akan berjumpa lagi.///

Percayalah tiada yang kekal didunia ini..//

Slamat jalan kawanku,

Kini mimpimu telah kau dapati,

Tiada lagi seorangpun yang dapat mengganggu kau bernyanyi///

Damailah kau disisi-Nya//

Sesungguhnya semuanya akan kembali pula pada-Nya ////

September 25th, 2007 by fai-hmz

PENGHARAPAN

Langit bersinar cerah, mentari pagi tersenyum simpul menyapa sang khalifah, burung burung bersenandung ria melantunkan syair syair keagungan, pohon pohon melambaikan tangannya menyambut hari yang cerah , angin bertiup lembut membelai kulitku, qku terperanjat tatkala sebuah kegungan tuhan muncul didepanku, ia begitu mempesona mengiris hatiku yang terdalam, dengan langkah kaki yang lembut selembut awan dengan dibalut selendang mayang ia tampak begitu anggun melangkah ke arahku, ta’dinyana saat aku terbuai akan keelokan dan keagungan penciptaan-Nya ia datang padaku dan tersenyum simpul dengan bibir yang merekah ba’ buah rubi, sorot matanya yang sayup melengkapi keceriaan yang terpancar dari raut mukanya, haiku seolah tertancap duri menusuk hingga ke ulu hatiku, apakah ini?apakah yang telah kurasakan ini sungguh aku ta’ tahu?  Tatkala ia jau hatiku seolah berteriak memanggil namanya, manakala ia dekat bibirku terasa pilu ta’ dapt berkata apa-apa.aku memang seorang pecundang yang bersembunyi dibalik bayang-bayang kata teman. Hatiku terasa teriris manakala aku tahu ia telah tumbuh menjadi bidadari yang sempurna dengan sayap-sayapnya yang terbentang indah ia terbang bersama angin yang berhembus kencang membawanya pergi jauh dan aku hanya bisa terdiam dengan seyuman ku hantarkan ia menuju jalan yang mungkin ta’ tahu entah kemana sang anginmembawanya meskipun hati ini berat tu’ melepasnya, aku bahagia bila melihatnya tersenyum bahagia bersamanya meskipun hatiku teriris, aku masih tetap disini menunggunya kembali untukku, seperti bintang ia bersinar terangi hatiku yang kelam .

Hanya sepenggal kasih tiada bunyi yang dapat ku rangkai dengan segenap rasa penuh dengan penyesalan yang mendalam atas smuanya.

Dalam keheningan malam terdengar suara sayup mendayu mengiringi hembusan angin malam, suara yang begitu dalam terdengar dari hati yang penuh gunda dan penyesalan yang terdalam, berat dan sangat dramatis :

kepadamu bidadari khayalku;

dimana lagi kau simpan cerita tentang perasaanku, dimana kau simpan kisah tentang hatiku yang tak pernah memiliki kebahagiaan dan rasa suka selain duka ;

wahai engkau yang teramat ku rindukan,

wahai engkau yang  selalu ada dalam kenanganku, yang takkan trgantikan dngan sribu pesona bidadari /

wahai engkau yang teramat aku sayangi//

wanita yang takkan dapat trlupakan, sebagaimana aku tak dapat melupan namaku sendiri;

hatiku menangis dan jiwaku bersedih, batinku terluka ragaku berduka;//

dua sinar, dan satu kegelepan ;  menari-nari dan ia membujukku ;

aku terpikat lupa aku penat melekat//

kepadamu wahai pencuri cintaku//

disaat kau bersamaku; // cahaya rembulan membasuh kulitku dan kulitmu

sedang cahaya bintang menyentuh wajahmu, membuat ia begitu indah dan menentramkan jiwa yang melihat pesonanya

hingga hari ini sejak empat tahun lalu, saat kau pergi bersama kesedihan ;

kujaga semua perasaanku untuk mengatakan aku menyukaimu;